Bandung Belum Beres: Podcast Kolaborasi Bahas Kemacetan, Ketidaktertiban, dan Budaya Kota

K-Lite FM Bandung,- Bandung – Berbagai persoalan yang masih menjadi tantangan Kota Bandung akan menjadi topik utama dalam podcast bertajuk “Bandung Belum Beres”. Program ini merupakan kolaborasi antara Bandung Belum Beres, RMOLTV Republik Merdeka, Paguyuban Bandung Ngariung, dan K-Lite 107.1 FM.
Mengusung tema “Mengapa Bandung Semakin Sulit Bergerak? Siapa yang Harus Berubah?”, diskusi akan mengupas berbagai persoalan perkotaan, mulai dari kemacetan lalu lintas, ketidaktertiban masyarakat, hingga keamanan jalan yang dinilai bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya masyarakat kota.
Podcast ini diharapkan menjadi ruang dialog terbuka yang menghadirkan berbagai sudut pandang dari pemerintah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat dalam mencari solusi bagi permasalahan Kota Bandung.
Acara akan dipandu oleh Saeful Zaman selaku host dan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya:
- Rasdian Setiadi, S.IP., MM – Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung (dalam konfirmasi).
- Eric Mohammad Atthauriq – Kepala DPMPTSP Kota Bandung (dalam konfirmasi).
- Frans Adi Prasetyo – Pengamat Tata Kota Institut Teknologi Bandung (ITB).
- Perry Tristianto – Perwakilan Paguyuban Bandung Ngariung.
- Martin B. Chandra – Perwakilan Paguyuban Bandung Ngariung.
- Putra Ramdhansah – Komunitas My Grab My Adventure (MGMA).
Melalui diskusi ini, para narasumber akan membahas akar persoalan yang menyebabkan mobilitas di Kota Bandung semakin sulit, sekaligus mengulas peran pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menciptakan kota yang lebih tertib, aman, dan nyaman.
Kegiatan ini akan disiarkan secara langsung pada:
Hari/Tanggal: Kamis, 30 Juli 2026
Waktu: Pukul 16.30 WIB
Live Streaming: RMOLTV dan K-Lite 107.1 FM
Masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam sesi interaksi dan tanya jawab selama acara berlangsung melalui nomor 0812-2031-972.
Melalui podcast “Bandung Belum Beres”, penyelenggara berharap diskusi tidak hanya menjadi ajang penyampaian kritik, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan solusi konstruktif untuk mewujudkan Bandung yang lebih tertata, lebih nyaman, dan lebih baik bagi seluruh warganya.
