“Cinta di Ujung Parigi”

Iwan turun dari bus di stasiun dengan napas lega. Stasiun itu meninggalkan kenangan indah bersama Ratih, ketika Iwan pergi merantau, mencari ilmu. Setelah bertahun-tahun merantau dan akhirnya lulus kuliah, dia kembali ke desa kecil tempat ia dibesarkan. Dua tujuan yang tetap membara hatinya: Ratih. Kekasih masa SMA-nya yang selama ini setia menunggu.
Dengan langkah penuh semangat, ia berjalan ke rumah. Ibunya menyambutnya hangat, namun mata wanita tua itu tampak menyimpan keletihan dan menyembunyikan raut mukanya yang sekarang agak sedikit muram dan penuh misteri. Setelah sedikit bercerita tentang perjuangan kuliah, lulus dan sekarang magang di perusahaan yang cukup besar di kota, Iwan sambil menatp ibunya dan sedikit tersenyum, menanyakan Ratih, yang menjadi salah satu tujuan dia pulang ke Parigi. Saat Iwan menyebut nama Ratih, ibunya hanya terdiam, dan terasa ada angin dingin yang membekukan bibirnya. Dengan lirih ibunya berkata :
“Ratih?” gumam ibunya. “Kau… masih ingat dia?”
“Ya, Bu. Aku ingin melamarnya,” ujar Iwan sambil menunjukkan kotak cincin kecil dari sakunya.
Ibunya tak menjawab, hanya menunduk dan masuk ke dapur. Seolah menghindari pembicaraan itu. Ibunya berkata :
“Wan kamu istirahat dulu, besok kita ngobrol lagi soal Ratih dan lamaranmu, kamu terlihat lelah”
Iwan segera beranjak ke kamarnya, mengambil handuk dari tasnya, kemudian mandi.
Setelah menyelesaikan shalat magrib. Iwan bermaksud pamit pada ibunya untuk menemui Ratih. Tetapi ia masih mengenakan mukena dan dalam keadaan berdoa. Iwan memutuskan pergi ke rumah Ratih.
Sambil berjalan, Iwan merenung menyusun kalimat apa nanti yang akan dia sampaikan pada orang tua Ratih. Semangat menemui Ratih membangkitkan energi yang kuat, sehingga dalam waktu yang singkat, Iwan sudah sampai dihalaman rumah Ratih. Rumahnya tampak sunyi, kosong, dan seperti tak ada aktifitas. Jendela-jendela tertutup rapat, dan halaman dipenuhi rumput liar, seperti tak terurus, padahal Iwan tau Ratih maupun keluarganya rajin merawat Rumah. Iwan belum berani mengetuk pintu, khawatirnya sudah pada lelap tertidur, maklum di kampung, setelah beres pekerjaan rutin mereka langsung terlelap, setelah shalat Isya. Saat Iwan melangkah menuju belakang rumah, tiba-tiba ada suara lembut memanggil namanya dari balik kegelapan. Iwan, walaupun sudah lama tidak bertemu Ratih, tapi suara yang lembut itu, mengingatkan pada gadis idamannya, yaitu Ratih.
“Iwan…”
Ia menoleh. Ratih berdiri di bawah pohon beringin, belakang rumah, yang memang sejak dulu sudah ada disitu, tetapi sekarang terlihat lebih besar, rimbun dan dingin. Ratih mengenakan kebaya putih sederhana. Ratih terlihat anggun, wajahnya bersih, pucat, tersenyum.
“Ratih… benarkah ini kamu?” tanya Iwan nyaris berbisik.
Ratih tak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan dan menariknya, agar Iwan mengikuti dia menuju jalan setapak dibelakang rumah menuju hutan Parigi. Iwan tidak bisa menolak, hanya mengikuti keinginan Ratih. Kalimat yang tadi sempat tersusun rapi utnuk disampaiaknpada orang tunya, seolah hilang begitu saja, bahkan Ratih tidak memberi kesempatan Iwan untuk menemui orang tuanya

“Ayo… ikut aku,” katanya.
Mereka berjalan, meninggalkan jalan desa dan menelusuri jalan setapak menuju kegelapan malam yang pekat. Angin, suara binatang malam, terhenti bernyanyi, seperti tidak mau mengganggu dua insan yang bahagia. Semakin jauh mereka melangkah, semakin sunyi suasana. Pepohonan rapat menaungi jalan, udara terasa berat, dan suara senyap seketika. Hanya suara langkah mereka berdua di atas daun-daun kering yang terdengar.
“Tempat ini… sejak kapan ada hutan di belakang sini?” gumam Iwan.
Ratih tersenyum. “Tempat ini hanya muncul… untuk orang-orang yang betul-betul mencintaiku.”
Perkataan itu menggantung aneh di udara, tapi Iwan terlalu mabuk rindu untuk mempertanyakannya.
Mereka tiba di sebuah lapangan kecil di tengah hutan. Di sana berdiri gubuk reyot dengan lampu minyak menggantung. Ratih duduk di bangku kayu, mengajak Iwan berbincang tentang masa lalu. Tentang sekolah, tentang mimpi, tentang hari pernikahan mereka nanti.
Wajahnya tenang, suaranya lembut, tapi sesekali angin berhembus dingin dan membuat kulit Iwan merinding. Ia menatap Ratih… ada sesuatu yang tak biasa. Senyumnya terlalu lebar, kulitnya terlalu pucat. Namun matanya menyimpan kesedihan yang dalam. Wajah itu belum pernah ia lihat, bahkan terakhir ketika Ratih mengantarnya ke stasiun.
Sesekali Ratih, tertawa lepas, saat Iwan bercerita kejadian-kejadian lucu yang dulu pernah mereka alami. Tiba-tiba Iwan melihat jam, yang dari tadi tidak dia perhatikan, sudah menunjukkan pukul 23.30, sudah larut dan hampir menjelang pagi. Iwan berputar meilhat sekeliling, baru terasa sekarang betapa sepi, dingin dan sesekali tercium bau bungan kemboja, yang memang di daerah itu banyak ditaman, karena dekat dengan kuburan-kuburan keluarga. Ketika kantuk mulai menguasai, Ratih menggenggam tangannya. Pelan-pelan tangan Iwan terkulai, lemas dan tertidur pulas di kaki Ratih yang bergelantungan di penggung beranda rumah.
Ratih bergumam : “Kalau kau mencintaiku… jangan tinggalkan aku,” bisiknya.
Hanya kalimat itu yang bisa Ratih ucapkan, sambil tetap memegang tangan Iwan, air matanya tiba-tiba jatuh menetes di pipi Iwan. Iwan sadar dan terbangun, kelelahan perjalaan siang tadi membuatnya lelap tertidur.
Fajar menyingsing. Iwan terbangun dengan kepala berat dan tubuh pegal. Tempatnya tertidur masih terasa empuk, karena dia tidur di atas rumput yang hijau, sejuk tapi dingin. Ternyata, Iwan tertidur di atas tanah. Di tengah hamparan rumput liar. Sunyi. Dan dingin.
Ia berdiri perlahan, menatap sekeliling… dan tubuhnya membeku. Ia berada di tengah kuburan tua yang tersembunyi di balik hutan. Nisan-nisan batu berdiri tak teratur. Lalu matanya menangkap satu nisan baru dengan bunga layu di atasnya.

