Seeing Social Issues: Komunitas Pemuda Dibekali Critical Framing agar Fotografi Tak Sekadar Dokumentasi, tetapi Representasi Sosial
Di salah satu sudut Perpustakaan Taman Awan, layar presentasi menampilkan satu pertanyaan sederhana: ketika memotret sebuah isu sosial, siapa yang sebenarnya sedang kita bingkai, dan untuk siapa? Pertanyaan itu menjadi pemantik diskusi dalam talkshow yang diselenggarakan tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) 2026 bersama Komunitas Paramuda Indonesia dan Bandung Street Shooter (BSS). Kegiatan berlangsung di Perpustakaan Taman Awan, Jl. Kayuagung II No. 9A, Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40264, Minggu (25/10/2026).
Program Seeing Social Issues: Penguatan Critical Framing melalui Fotografi sebagai Media Representasi Sosial merupakan salah satu dari tiga program Abdimas yang disatukan dalam forum ini, bersama Visual Advocacy dan Youth Visual Narratives. Bagi Paramuda, komunitas kepemudaan dengan tiga pilar yaitu inovasi dan pendidikan, sosial dan kemanusiaan, serta kesenian dan kebudayaan, program ini menjadi bekal agar aksi sosial mereka tidak berhenti pada dokumentasi kegiatan, tetapi berkembang menjadi kampanye visual yang berdampak. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian pra-event IPSMF 2026.
Hadir sebagai narasumber tiga dosen Telkom University, yaitu Harisul Amal, M.A., Yogie Alwaton, S.I.Kom., M.A., dan Dudi Rustandi, M.I.Kom. Dari pihak komunitas hadir Erik Fermana selaku Founder Komunitas Paramuda Indonesia dan Arif Rudiana selaku Ketua Komunitas Bandung Street Shooter. Sebanyak 39 peserta dari kedua komunitas mengikuti kegiatan ini.
Dalam sesi materi, salah satu dosen Telkom University menjelaskan bahwa di era kelebihan informasi, foto memiliki kekuatan untuk memberi wajah manusiawi pada isu yang sering hanya hadir sebagai angka atau teks. Namun, kekuatan itu menuntut tanggung jawab. Peserta diajak memahami critical framing sebagai proses berpikir kritis dalam menentukan sudut pandang, memilih subjek, dan membangun narasi visual. Tanpa pendekatan ini, karya berisiko terjebak pada eksploitasi visual atau misrepresentasi yang justru memperkuat stereotip terhadap kelompok tertentu. “Foto itu tidak pernah netral. Setiap sudut dan momen yang kita pilih akan memengaruhi cara orang memandang sebuah isu, jadi kita perlu berpikir sebelum memotret,” ujarnya pada Minggu (25/10/2026).
Peserta juga diperkenalkan pada etika representasi sosial, mulai dari persetujuan dan privasi subjek, menghindari eksploitasi kelompok rentan, hingga menjaga konteks agar narasi tidak dimanipulasi. Materi berlanjut pada teknik menyusun photo story, yang mencakup pencahayaan, sudut pandang, caption pendamping, dan pemilihan subjek yang emosional namun tetap etis.
Dari sisi komunitas, Erik Fermana menyampaikan bahwa anggota Paramuda yang mayoritas berusia 17 hingga 24 tahun selama ini aktif turun langsung merespons isu sosial, dan pemahaman critical framing menjadi bekal agar karya visual mereka lebih bermakna. “Selama
ini kami banyak mendokumentasikan kegiatan. Lewat materi ini kami belajar bahwa foto bisa menjadi suara untuk isu yang ingin kami perjuangkan,” ujar Erik pada Minggu (25/10/2026).
Diskusi berlangsung hidup dan dua arah. Peserta antusias menanyakan cara memilih sudut pandang yang adil saat memotret isu sosial seperti pendidikan dan lingkungan, serta bagaimana tetap menghormati subjek tanpa kehilangan kekuatan pesan dalam foto. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong para narasumber dan peserta saling berbagi pengalaman dari lapangan, sehingga diskusi tidak hanya berisi paparan materi, tetapi juga pertukaran gagasan antara akademisi dan komunitas.
Tim Abdimas juga mengajak peserta memanfaatkan media digital komunitas untuk mempublikasikan karya fotografi sosial mereka, serta berpartisipasi dalam IPSMF 2026, kompetisi fotografi dan film pendek tahunan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Telkom University. Informasi pendaftaran dapat diikuti melalui kanal resmi IPSMF. Melalui Seeing Social Issues, Abdimas IPSMF berharap generasi muda semakin peka, kritis, dan bertanggung jawab dalam menyuarakan isu kemanusiaan, pendidikan, dan lingkungan melalui karya visual. Selaras dengan semangat Paramuda, “Bergerak Serempak, Memberi Dampak”, kolaborasi kampus dan komunitas ini diharapkan terus berlanjut dan melahirkan karya yang memiliki daya jangkau luas.
