Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga Di Tengah Meningkatnya Tekanan Perekonomian Global

K-Lite FM JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih terjaga di tengah meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 30 September 2026. OJK menyebut sektor jasa keuangan nasional tetap memiliki fundamental yang solid meski menghadapi ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.

Tekanan ekonomi global antara lain dipengaruhi meningkatnya inflasi akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh potensi dampak very strong El Nino terhadap harga pangan dan komoditas pertanian. Kenaikan inflasi global kemudian mendorong sejumlah negara menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer). Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang tercatat menaikkan suku bunga kebijakan, sementara pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 dan berlanjut pada 2027.

Di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi domestik dinilai relatif stabil. Inflasi Indonesia masih terjaga sesuai target pemerintah sehingga konsumsi dan permintaan domestik tetap kuat. OECD bahkan meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 0,5 persen, yang mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Pasar Modal Menghadapi Tekanan

Tekanan global turut memengaruhi pasar modal Indonesia. OJK mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.071,14 pada akhir September 2026. Angka tersebut menunjukkan koreksi 6,96 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan secara kumulatif terkoreksi 29,79 persen sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual dengan net sell sebesar Rp10,24 triliun sepanjang September. Pada Agustus 2026, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp1,19 triliun. Meski pasar mengalami tekanan, OJK menilai resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik masih terkendali. Rata-rata nilai transaksi harian saham tercatat Rp14,94 triliun, sementara rata-rata bid-ask spread berada di level 1,20 persen. Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 439,05. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata meningkat 14,12 basis poin secara bulanan.

Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen

Di sektor perbankan, intermediasi terus menunjukkan penguatan. Kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp9.178 triliun. Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit investasi yang mencapai 25,11 persen yoy. Kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,07 persen. Dari sisi debitur, kredit korporasi menjadi kelompok dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 22,18 persen yoy. Sementara kredit UMKM juga melanjutkan tren positif dengan pertumbuhan 2,32 persen yoy. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan juga tumbuh 10,94 persen yoy menjadi Rp10.413 triliun. Pertumbuhan DPK terutama berasal dari deposito yang meningkat 13,10 persen, diikuti giro 9,82 persen dan tabungan 9,56 persen. Ketahanan perbankan juga tetap kuat. Rasio kecukupan modal atau CAR berada di level 24,10 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah atau NPL gross tercatat 2,11 persen.

Aset Industri Asuransi Capai Rp1.200 Triliun

Pada sektor perasuransian, penjaminan dan dana pensiun, total aset industri asuransi pada Agustus 2026 mencapai Rp1.200,55 triliun atau tumbuh 2,56 persen yoy. Dari sisi asuransi komersial, total aset mencapai Rp982,18 triliun atau tumbuh 3,59 persen yoy. Akumulasi premi asuransi komersial mencapai Rp255,40 triliun atau tumbuh 2,66 persen yoy. Sementara itu, total aset dana pensiun mencapai Rp1.724,14 triliun, tumbuh 6,99 persen yoy. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong peningkatan aset investasi pada Surat Berharga Negara. OJK memproyeksikan sektor perasuransian dan dana pensiun masih akan tumbuh positif hingga akhir 2026, meskipun dengan laju yang lebih moderat akibat tekanan ekonomi global.

Pembiayaan dan Pinjaman Daring Tetap Tumbuh

Di sektor lembaga pembiayaan, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan pada Agustus 2026 mencapai Rp514,08 triliun atau tumbuh 1,68 persen yoy. Sementara itu, outstanding pembiayaan pinjaman daring mencapai Rp106,94 triliun dengan pertumbuhan 22,07 persen yoy. Namun, tingkat risiko kredit macet TWP90 tercatat meningkat menjadi 4,73 persen. Industri pergadaian juga mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Penyaluran pembiayaan pada Agustus 2026 mencapai Rp156,61 triliun atau tumbuh 44,60 persen yoy.

Ekosistem Keuangan Digital Terus Berkembang

OJK juga mencatat perkembangan positif pada sektor inovasi teknologi sektor keuangan dan aset keuangan digital. Hingga September 2026, terdapat 24 penyelenggara inovasi teknologi sektor keuangan (ITSK) yang resmi dan terdaftar di OJK. Selain itu, jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 23,21 juta akun pada Agustus 2026. Nilai transaksi aset kripto selama Agustus 2026 mencapai Rp23,16 triliun, meningkat 12,87 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Transaksi derivatif aset keuangan digital juga meningkat 33,76 persen menjadi Rp4,56 triliun.

OJK Perkuat Perlindungan Konsumen

Di sisi perlindungan konsumen, OJK terus memperkuat edukasi dan literasi keuangan. Sepanjang 1 Januari hingga 30 September 2026, OJK telah menyelenggarakan 4.711 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 13,31 juta peserta. OJK juga mencatat program GENCARKAN telah menjangkau 447 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia atau sekitar 86,96 persen wilayah kabupaten/kota. Secara keseluruhan, OJK menegaskan akan terus melakukan pengawasan dan memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus mendorong kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketahanan sektor keuangan nasional menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan.