Kenapa 86 Negara Membeli Film ‘Ghost In The Cell’?

K-Lite FM Bandung,- Ghost in the Cell kini memegang REKOR FILM INDONESIA YANG DIJUAL KE NEGARA TERBANYAK sepanjang sejarah perfilman Indonesia sebanyak 86 Negara. Bahkan sebelum tayang di Negeri sendiri.

Ini bukan karena distributor negara luar iseng. Bukan karena kenal dengan filmmakernya. Tapi karena mereka telah menonton Ghost In The Cell. Dan menganggap film ini sangat layak untuk mereka putar, untuk penonton di bioskop di negara mereka.

“Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang sistem yang korup. Tentang orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan,” kata penulis dan sutradara Joko Anwar.

Distributor Amerika mengatakan “We’ve seen firsthand how strongly his work resonates with audiences here. Ghost In The Cell is an absolute blast, it’s wildly entertaining and delicious gory in all the right ways.”

Plaion Pictures distributor Jerman, yang katalognya mencakup film-film kaliber tinggi termasuk: Parasite, anatomy of a fall, dan no other choice. Distributor Jerman mengatakan “The movies works brilliant a fantastic piece of filmmaking.” Ini bukan distributor kecil. Ini kurator film terbaik dunia, dan mereka memilih Ghost In The Cell dari ribuan film dunia yang mampu mereka beli.

“Tayangnya film Ghost in the Cell di 86 negara di dunia membuktikan secara kualitas produksinya, dan juga terbukti diakui secara luas sehingga membuat banyak negara berminat untuk menayangkan film Ghost in the Cell di negara mereka,” ujar produser Tia Hasibuan.

Tapi kenapa?

Karena film ini dibangun dengan craftsmanship yang tidak bisa dibeli hanya dengan uang, tapi dengan skill yang tinggi di semua departemen. Distributor Asia Purple Plan mengatakan “Under the direction of prolific storytelling Joko Anwar the film has a distinctive voice that sets it apart from others in the genre.”

Variety mencatat cara Joko Anwar menyeimbangkan kekerasan, satire dan humor yang tidak nyaman dan mempertajamnya. Programmer Berlin Film Festival memuji Ghost In The Cell sebagai “PENGAMBILAN ALIH GENRE MUTAKHIR.”

Ghost In The Cell adalah satu dari 32 film yang dipilih masuk Berlinale Forum. Seksi yang didedikasikan untuk sinema paling ambisius secara artistik dan politis di dunia, menyisihkan ribuan film yang mengajukan diri untuk ikut serta. Perfilman Indonesia semakin mengukuhkan dirinya di peta perfilman dunia dan GHOST IN THE CELL menegaskan hal itu.

Rayakan prestasi film Indonesia di kancah dunia. (Ria Amara)