5 Tips Atasi Kesepian Memasuki Usia Lansia

Indra K Muhtadi

20 Mei 2025

Klite-Media. Ketika usia sesorang sudah dikatakan lansia usia 70-80 tahun, mereka merasa ada peningkatan rasa kesepian. Kasus kesepian pada lansia ini meningkat ketika generasi baby boomers memasuki usia 70-80 tahun yaitu di awal abad 21 sekarang ini. Setidaknya 10 ribu generasi baby boomers mencapai usia 65 tahun setiap hari berlangsung sampai tahun 2030. Penambahan populasi dunia yang memasuki usia lansia ini akan membuat porsi lansia yang mengalami kesepian sampai 30% pada tahun 2030 nanti.Mengatasi Rasa Kesepian Pada Lansia
Rasa kesepian pada lansia merupakan produk atau hasil akhir dari berbagai kondisi yang menyebabkannya bisa terjadi. Sehingga upaya untuk mengatasi rasa kesepian tersebut adalah dengan menangani penyebabnya. Bahkan lebih jauh harus dimulai dari pencegahan faktor-faktor pencetus yang dapat menyebabkan munculnya rasa kesepian tersebut. Upaya ini harus dilakukan dari dua sisi, yaitu sisi lansia yang bersangkutan sendiri, juga sisi dari pihak keluarga atau kerabatnya. Para ahli sepakat bahwa titik awalnya adalah dengan merubah pola pikir atau mindset dari lansia agar bisa terhindar dari rasa kesepian.

1. Merubah Mindset
Para ahli merumuskan bahwa mengatasi atau mencegah kesepian pada lansia bukan melulu dengan cara membuat mereka lebih aktif berinteraksi secara sosial; melainkan justru harus diawali dengan memutus dan menghentikan fikiran-fikiran negatif mengenai self-worth atau fungsi keberadaan mereka dalam lingkungan sosial. Cara terapi yang dikenal dengan cognitive-behavioral therapy (CBT) dan biasa digunakan untuk menangani depresieating disorders, dan masalah psikis lainnya; ternyata juga efektif dalam menangani kesepian pada lansia. CBT sendiri selalu dimulai dengan mengajak pasien untuk merubah sudut pandang atau mindset mereka terhadap masalah yang tengah dihadapi. Merubah cara mereka melihat, memikir-kan dan bersikap dengan orang lain.

2. Peer Group Mulai Ditinggalkan
Bentuk grup diskusi atau peer group dengan mengumpul-kan sesama lansia untuk saling curhat dan bercerita tentang masalahnya, ternyata dilaporkan tidak begitu bermanfaat mengurangi rasa kesepian yang mereka derita. Tidak begitu mengejutkan, karena mengumpulkan sekelompok orang yang sama-sama merasa kesepian dalam hidupnya, jarang sekali menggali akar permasalahan munculnya rasa kesepian tersebut. Hal ini terjadi karena penderita kesepian apa lagi yang ekstrim, memiliki asumsi tidak benar terhadap diri mereka sendiri dan bagaimana orang lain melihat atau berpendapat tentang diri mereka. Maka jika orang-orang tersebut disatukan dalam sebuah grup diskusi, hanya akan memperkuat persepsi salah karena terjadi pembenaran dari asumsi-asumsi yang tidak benar tersebut.

3. Interaksi Sosial
Baru setelah mindset mereka dirubah dan asumsi-asumsi tidak benar dihilangkan, maka mengajak lansia yang merasa kesepian untuk lebih aktif berinteraksi sosial akan memberikan dampak keberhasilan mengatasi kesepiannya. Interaksi sosial yang sering disarankan adalah melakukan aktivitas-aktivitas volunteering atau sukarela pada kegiatan keagamaan, sosial, bahkan organisasi politik. Berbagai aktivitas ini dapat melawan rasa hilang tujuan hidup selain sudah tentu tetap dapat menstimulasi fungsi kognitif lansia. Penelitian melaporkan bahwa lansia yang aktif dalam aktivitas sukarela ini selain dapat meningkatkan harga diri, juga dapat meningkatkan dukungan sosial, sampai terjadi-nya penurunan risiko pencetus penyakit seperti yang sudah dibahas di atas.

4. Pensiun dengan Menyendiri
Sejak dulu bahkan mungkin hingga kini masih ada yang beranggapan bahwa ketika memasuki masa pensiun, seseorang sebaiknya tinggal di tempat yang tenang dan sunyi, serta lebih mendekat ke alam jauh dari kesibukan. Ternyata anggapan ini tidak sepenuhnya benar dan harus benar-benar dilihat lokasi yang dipilih untuk tempat tinggal pensiun tersebut. Karena berada di tempat yang sepertinya ideal tersebut, sering kali malah membuat seorang lansia menjauh dari keluarga, kerabat, dan teman dekatnya. Sudah banyak juga penelitian yang melaporkan bahwa lansia setelah pensiun yang berada dekat dengan orang terdekat mereka, justru mereka tidak kesepian, dibandingkan yang berjauhan.

5. Memanfaatkan Teknologi
Para generasi baby boomers yang di awal abad 21 ini memasuki usia lansia sangat diuntungkan dengan kehadir-an teknologi komunikasi yang semakin canggih. Karena kini interaksi sosial bahkan kegiatan sukarela tidak hanya bisa dilakukan secara tatap muka, tapi juga dapat dilakukan secara daring. Walaupun secara rutin aktivitas tatap muka secara fisik tetap harus dilakukan. Namun yang harus menjadi catatan adalah lansia bisa saja sudah mengalami penurunan penglihatan, pendengaran, bahkan kemampuan untuk menekan ikon kecil di layar yang juga kecil. Karenanya teknologi sudah sepatutnya dibuat yang lebih friendly untuk pengguna lansia; seperti fitur membuat suara lebih keras, karakter dan/atau layar lebih besar, bahkan menggunakan teknologi voice command.