Youth Visual Narratives: Komunitas Fotografi Diperkuat Menjadi Agen Perubahan Sosial Lewat Etika Memotret dan Visual Storytelling

Redaksi Klite -30 Oktober 2026 Suasana perpustakaan siang itu terasa tenang, tetapi diskusi di dalamnya tidak pernah sepi. Para anggota Komunitas Paramuda Indonesia dan Bandung Street Shooter (BSS) berkumpul, menyimak, dan saling bertukar sudut pandang dalam talkshow tentang isu sosial yang diselenggarakan tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) 2026. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pandangan sekaligus membangun kesadaran terhadap persoalan sosial di masyarakat. Acara berlangsung di Perpustakaan Taman Awan, Jl. Kayuagung II No. 9A, Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40264, Minggu (25/10/2026).
Talkshow ini menyatukan tiga program Abdimas dalam satu forum diskusi, yaitu Visual Advocacy: Pengembangan Narasi Fotografi untuk Kampanye Sosial di Era Digital; Youth Visual Narratives: Mendorong Peran Komunitas Fotografi sebagai Agen Perubahan Sosial bersama BSS; dan Seeing Social Issues: Penguatan Critical Framing melalui Fotografi sebagai Media Representasi Sosial bersama Paramuda. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian pra-event IPSMF 2026.
Diskusi menghadirkan tiga dosen Telkom University, yaitu Harisul Amal, M.A., Yogie Alwaton, S.I.Kom., M.A., dan Dudi Rustandi, M.I.Kom. Dari pihak komunitas hadir Erik Fermana selaku Founder Komunitas Paramuda Indonesia dan Arif Rudiana selaku Ketua Komunitas Bandung Street Shooter. Sebanyak 39 peserta dari kedua komunitas mengikuti jalannya diskusi.
Pada sesi pertama, Yogie Alwaton, S.I.Kom., M.A., membahas bagaimana fotografi, khususnya street photography, berfungsi bukan hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai sarana bertutur dan menyuarakan isu sosial. Peserta diajak melihat bahwa pilihan momen, sudut pengambilan gambar, dan komposisi membentuk pesan yang sampai kepada penonton. “Foto jalanan tidak hanya merekam apa yang terjadi, tetapi juga membentuk cara orang memahami kehidupan di sekitarnya,” ujarYogie Alwaton, S.I.Kom., M.A., pada Minggu (25/10/2026).
Dari sisi praktisi, Ketua BSS Arif Rudiana menyoroti pentingnya etika memotret di ruang publik, mulai dari meminta izin kepada subjek, menghormati privasi, hingga bertanggung jawab saat mempublikasikan foto di media sosial. Ia juga menekankan pentingnya menyusun rangkaian foto yang bercerita, bukan sekadar foto tunggal. “Memotret orang di ruang publik itu ada tanggung jawabnya. Kita perlu menghormati subjek, dan cerita yang kita bangun harus tetap jujur,” ujar Arif pada Minggu (25/10/2026).
Sementara itu, Erik Fermana dari Paramuda menuturkan bahwa karya visual memiliki peran penting dalam membangun kepedulian terhadap isu sosial, terutama bila komunitas mau berkolaborasi dan memanfaatkan media sosial secara strategis. “Foto bisa membuat orang peduli, tetapi dampaknya akan lebih besar kalau komunitas bergerak bersama dan menyuarakannya secara konsisten,” ujar Erik pada Minggu (25/10/2026).
Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Peserta antusias bertanya seputar etika memotret di ruang publik dan pengelolaan media sosial untuk mempublikasikan karya. Salah satu peserta menanyakan bagaimana cara membuat karya foto tetap menarik di media sosial tanpa kehilangan pesan sosial yang ingin disampaikan. Pertanyaan ini memantik diskusi tentang pentingnya caption yang kontekstual dan konsistensi dalam mengunggah karya, agar perhatian publik tidak berhenti pada jumlah likes, tetapi berlanjut menjadi kepedulian. Suasana diskusi yang terbuka membuat pertukaran gagasan antara akademisi dan komunitas berjalan dua arah.
Tim Abdimas menekankan bahwa fotografi bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga sarana bertutur dan menyuarakan isu sosial. Kegiatan ini juga mengajak komunitas untuk berpartisipasi dalam IPSMF 2026, kompetisi fotografi dan film pendek tahunan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Telkom University.
Melalui Youth Visual Narratives, Abdimas IPSMF berharap komunitas fotografi semakin percaya diri menggunakan karya visualnya sebagai media representasi dan advokasi sosial secara kritis dan beretika. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas diharapkan terus berlanjut, sehingga ekosistem fotografi di Kota Bandung semakin kuat dan membuka jalan bagi regenerasi kreator visual yang bertanggung jawab.

